Selamat
malam…
Ini
nih saya mau bagi-bagi sedikit ilmu dari buku yang saya baca liburan ini.
Bukunya keren banget dah, menjadi dapat tamparan dan lebih termotivasi setelah
baca bukunya. Ini nih sedikit yang saya kutip dari buku tersebut.
Coba bandingkan mana yang lebih cerdas antara Maher Zain dan Einstein?, maka sebagian kecil menjawab Maher Zain lah yang lebih cerdas dibanding Einstein, dan sebagian kecil lagi menjawab bahwa keduanya sama
cerdas pada bidangnya masing-masing.
Peter F. Saerang, penata rambut
terkemuka, dalam wawancaranya dengan Kompas(12/3/06), “Di bidang politik memang
dia jagonya, tetapi kalau rambut itu bidangku.” Begitu ucapnya ketika dia
dipercaya untuk menata rambut Margareth
Thatcher, yang pada saat itu menjabat sebagai perdana menteri Inggris dan
sedang berkunjung ke Indonesia.
Tidak ada manusia yang bodoh, yang ada
adalah bahwa manusia itu semuanya cerdas, semuanya genius, dan semuanya
berbakat. Dari sudut pandang manusialah sempurna dan tidak sempurna itu
terbangun. Padahal dari sudut pandang Tuhan YME tidak ada ciptaannya yang tidak
sempurna, melainkan adalah semuanya sempurna. Sekarang permasalahannya adalah
bagaimana kita memandang dan menyikapinya secara bijak.
Dalam
perkembagan terbaru ilmu psikologi dan pendidikan terapan, kedokteran, dan
lain-lain, terdapat suatu temuan yang memiliki kesimpulan yang sama, yaitu bahwa sebenarnya setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi cerdas
kreatif, dan genius dengan pendekatan-pendekatan yang disesuaikan dengan
pribadi masing-masing si pembelajar.
Anggapan
bahwa kesuksesan manusia diukur dari IQ belaka sudah tidak lagi memadai.
Seperti kita ketahui, IQ tidak bisa menjamin bahwa orag yang ber-IQ tinggi akan
sukses. Bukankah tidak sedikit orang yang ber-IQ tinggi ternyata kehidupannya
secara materi atau dilihat dari aspek duniawi masih rata-rata atau dibawah
rata-rata? Selain itu, IQ hanyalah mengukur salah satu bentuk kemempuan
kecerdasan saja. Masih banyak lagi kecerdasan lain, misalnya kecerdasan
memahami emosi, aktualisasi fisik, keindahan musik, dan lain-lain, yang tidak
diperhatikan pada IQ.
Mengagungkan
satu jenis kecerdsan saja, dalam hal ini cerdas dalam bidang eksak, membuat
persepsi masyarakat untuk meraih kesuksesan menjadi semakin sempit. Sepertinya
tidak ada jalan lain untuk menuju kesuksesan kecuali pandai dalam dunia eksak,
yang notabennya memiliki IQ tinggi. Padahal asumsi ini sungguh suatu kekeliruan
yang sangat besar. Sesungguhnya setiap manusia memiliki potensi untuk mendapat
kesuksesan melalui kecerdasan yang dimilikinya masing-masing. Sehingga terdapat
suatu istilah “all children are geniouses” (seluruh anak dilahirkan sebagai
genius). Baik genius secara logis, genius secara emosional, maupun genius
secara spiritual. Karena sesungguhnya pada saat lahir, setiap anak memiliki
potensi kecerdasan yang lebih besar daripada yang pernah digunakan oleh Leonardo Da Vinci atau Albert Einstein sekalipun.
Jika
ada manusia yang menganggap dan mengatakan dirinya adalah orang yang bodoh,
tidak pintar, tidak cerdas, dan tidak berbakat, sehingga merasa dirinya tidak
berguna, tidak bermanfaat, dan hanya sbagai sampah dalam masyarakat, maka
setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi penyebabnya, yaitu:
- Cara pandang yang merasa belum menemukan potensi yang luarbiasa dan unik yang Allah SWT berikan kepada dirinya . meskipun sudah menemukan apa yang menjadi kelebihan dlam dirinya, tetapi meremehkan kelebihan sendiri, sehingga sebenarnya dirinyalah yang menjadikan untuk tidak menjadi sukses. Atau dengan istilah lainnya adalah karena tidak memiliki kepercayaan diri yang kuat, sehingga potensi yang telah diketahuinya tidak di akui.
- Tidak ada kemauan yang kuat dan dukungan untuk mengembangkan lebih jauh potensi yang dimiliki.
- Bisa jadi itu hanyalah wrong man in the wrong place, sehingga merasa dirinya adalah orang bodoh. Albert Einstein bisa dikatakan bodoh oleh Michael Jordan dalam bidang olahraga bola basket. Dan begitu pula sebaliknya, Michael Jordan disebut orang bodoh oleh Albert Einstein dalam bidang fisika. Kedua orang ini dikatakan bodoh oleh orang lain dikarenakan tidak menguasai yang memang bukan bidnag ahlinya.
Padahal,
jika masing-masing dari kita menemukan dan mengolah potensi yang luar biasa
pada diri kita menjadi modal untuk melakukan sesuatu yang berarti dan bermanfaat
bagi diri dan masyarakat, maka tentu saja kepercayaan diri akan hadir sehingga
dapat menghancurkan sifat-sifat minder dan pecundang dalam diri kita.
//Sumber
Prihadhi, Endra K.2011.My Dream Career how to find
you dream career. Jakarta: PT Elex media Komputindo
Comments
Post a Comment